Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dokter Prancis Dukung Klorokuin Untuk Obat Virus Corona

WHO meminta Indonesia menghentikan penggunaan klorokuin sebagai obat Corona. Namun ada dokter Prancis yang gigih membela obat Malaria itu.

Inilah Profesor Didier Raoult dari Marseille, Prancis. Dia adalah ilmuwan yang gigih memperjuangkan penggunaan klorokuin dan hidroksiklorokuin sebagai obat untuk perawatan COVID-19.

Dia bukan orang sembarangan. Jabatannya adalah Direktur Institut Hospitalo-Universitaire (IHU) Mediterranee Infection di Marseille. Bahkan Presiden Prancis Emmanuel Macron sampai datang langsung menemuinya untuk konsultasi penanganan virus Corona di Prancis.

Raoult dengan tegas menolak publikasi riset dari jurnal medis Lancet yang dijadikan dasar oleh WHO untuk memerintahkan penghentian pemakaian klorokuin. Menurutnya itu adalah permainan data belaka.

"Bagaimana studi yang berantakan dengan big data mengubah apa yang kita lihat?" kata Raoult dilansir Channel News Asia yang dilihat pada hari Minggu.

Dalam cuitan di Twitter yang dilihat detikINET, Raoult mengkritik riset yang diterbitkan The Lancet. Menurutnya tidak mungkin data yang diambil dari 5 benua menghasilkan angka yang homogen atau mirip-mirip.

"Antara manipulasi data (tidak disebutkan dalam materi dan metode) atau permainan data palsu," tudingnya keras.

Komentar Raoult muncul usai keputusan WHO untuk menghentikan pemakaian klorokuin termasuk di Indonesia. Keputusan WHO tidak akan mengubah pendiriannya.

"Di sini kami punya 4.000 pasien. Jangan pikir saya akan berubah karena ada orang melakukan big data, yang semacam fantasi delusional. Tidak ada yang akan mengubah apa yang saya lihat dengan mata saya sendiri," kata dia.

Itu dia, usai merawat banyak pasien COVID-19, Raoult yakin klorokuin dan hidroksiklorokuin bisa membantu mereka sembuh dari virus Corona. "Ini adalah akhir dari pandemi," kata Raoult dengan yakin.

Hidroksiklorokuin adalah obat arthritis sedangkan klorokuin adalah obat malaria. Obat ini disebut punya efek samping pada jantung. Jurnal kedokteran The Lancet menerbitkan riset yang menyebutkan kedua obat ini meningkatkan risiko kematian pada pasien.