Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Formula Seperti Apa Yang Akan Menangkal Virus Corona?

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) mengaku telah menemukan formula untuk menangkal virus Corona. Formula ini berbasis eucalyptus dan telah dipatenkan dalam tiga bentuk produk sebagai penangkal virus, yaitu inhaler, diffuser oil, dan kalung anti Corona.

Hasil penelitian ini disebut paling efektif dengan memanfaatkan kandungan senyawa aktif yang ada di dalam eucalyptus, yaitu 1,8-cineole (eucalyptol). Hal ini disampaikan oleh Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry.

"Kesimpulan kami bisa (membunuh COVID-19), karena bahan aktif yang dimiliki eucalyptus dan target bisa membunuh Mpro (enzim dalam virus Corona) itu. Nah kandungan Mpro berlaku pada COVID-19 yang juga ada, dia bisa mereplikasi," kata Fadjry, pada hari Senin.

Analis Kebijakan Ahli Utama Badan Litbangkes, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dr Siswanto, MHP, DTM, mengatakan bahan yang digunakan sebenarnya bukanlah eucalyptus, tetapi tanaman yang masih satu famili yaitu melaleuca alternifolia.

"Jadi gini lho ya, itu bukan eucalyptus. Ada tanaman yang namanya melaleuca alternifolia, yang sebenarnya satu famili dengan eucalyptus cuma lebih kecil atau perdu.

Dr Siswanto mengatakan, dari melaleuca alternifolia itu akan menghasilkan minyak yang namanya Tree Tea Oil (TTO) yang hampir serupa dengan eucalyptus oil. Meskipun sama-sama obat luar, TTO ini lebih hebat karena bisa digunakan sebagai antiseptik, obat luka, dan membunuh virus.

Sebelumnya, TTO ini sudah diteliti sejak 2013 lalu oleh Professor Max Reynolds dari Griffith University. Selama diteliti, TTO ini difraksinasi atau mengambil komponen aktif dan tidak toksik, lalu dibuang yang toksiknya.

"Kemudian itu diberi nama Melaleuca Alternifolia Concentrate (MAC), dipatenkan di Indonesia oleh New Medic dengan nama AviMAC dan sudah aman. Lalu, dilakukan uji klinik antara badan litbang dengan institut penyakit tropis Universitas Airlangga (Unair) pada tahun 2013, untuk dengue," kata Dr Siswanto.

"Nah sekarang ada COVID-19, rupanya ada ide lagi gimana kalau MAC tadi dicoba kembali untuk COVID-19. Karena memang kalau kita lihat virus itu akan respon juga dengan obat dari bahan alam. Ya harus diuji lagi," terangnya.